Senin, 11 Juli 2011

CEK DAN BILYET GIRO

Cek
Adalah cek sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang  (KUHD). Pengertian secara umum adalah surat yang berisi perintah tidak  bersyarat oleh penerbit kepada bank yang memelihara rekening giro penerbit  untuk membayarkan suatu jumlah uang tertentu kepada pemegang atau  pembawa. Beberapa pihak yang terkait sehubungan dengan penggunaan cek  adalah sebagai berikut : 
a. Penerbit (drawer) : Orang yang mengeluarkan surat cek
b. Tersangkut : yaitu bank yang diberi perintah tanpa syarat untuk  membayar sejumlah uang tertentu
c. Pemegang (holder) : orang yang diberi hak untuk memperoleh  pembayaran, yang namanya tercantum dalam surat cek
d. Pembawa (bearer) : orang yang ditunjuk untuk menerima pembayaran,  tanpa menyebutkan namanya dalam surat cek. (Adanya pembawa ini  sebagai akibat dari klausula atas unjuk yang berlakuk bagi surat cek)
e. Pengganti : Orang yang menggantikan kedudukan pemegang surat cek  dengan jalan endosemen. Dalam hal ini surat cek diterbitkan dengan  klausula atas pengganti dengan mencantumkan nama penggnti dalam  surat cek.  
Adapun syarat  formal cek  menurut KUHD adalah sebagai berikut : 
a. Nama ‘cek’, yang dimuat dalam teks sendiri dan dinyatakan dalam  mana cek itu disebutkan. 
b. Perintah tak bersyarat untuk membayar suatu jumlah tertentu 
c. nama orang yang harus membayar (tersangkut)
d. penunjukan tempat dimana pembayaran harus terjadi 
e. Penyebutan hari penanggalan beserta tempat dimana cek diterbitkan 
f. Tanda tangan orang yang menerbitkan cek (penerbit) 
Bilyet Giro
Adalah surat perintah dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening  giro nasabah (bank tertarik) untuk memindahbukukan sejumlah uang dari  rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan  namanya pada bank yang sama atau bank lain. Penggunaan bilyet giro tidak  diatur dalam KUHD melainkan dalam SK No.28/32/KEP/DIR dan SE  No.28/32/UPG tanggal 4 Juli 1995 tentang Bilyet Giro. Adapun syarat formal  bilyet giro menurut SK tersebut adalah sebagai berikut : 
a. Nama ‘bilyet giro’ dan nomor bilyet giro yang bersangkutan
b. Nama tertarik
c. Perintah yang jelas tanpa syarat untuk memindahbukukan dana  atas  beban rekening penarik
d. Nama dan nomor rekening pemegang
e. Nama bank penerima
f. Jumlah dana yang dipindahbukukan baik dalam angka maupun dalam  huruf selengkap-lengkapnya
g. Tempat dan tanggal penarikan
h. Tanda tangan, nama jelas dan atau dilengkapi dengan cap, stempel  sesuai dengan persyaratan pembukuan rekening.
3. Kartu Kredit (credit card)
Adalah alat pembayaran yang pembayarannya dilakukan kemudian. Dalam  hal ini bank penerbit kartu memberikan kredit kepada nasabah pemegang  kartu kredit dengan batas waktu dan tambahan bunga yang telah disepakati  antara bank dan nasabah. Dalam penyelenggaraan kartu kredit ini terdapat beberapa pihak yang terlibat yaitu :
a. Penerbit (Issuer), yaitu pihak yang menerbitkan kartu kredit. Dalam hal  ini, issuer merupakan pihak yang mengadakan perjanjian dengan dan  yang memberikan fasilitas kredit kepada pemegang kartu.
b. Pengelola (Acquirer), yaitu pihak yang mengadakan hubungan atau  kerjasama dengan pedagang.
c. Prinsipal adalah pihak pemilik hak tunggal atas merk dalam  penyelenggaraan kartu kredit seperti Visa, MasterCard, Dinners dan  lain-lain. 
Setiap transaksi pembayaran dengan menggunakan kartu kredit memerlukan  proses otorisasi terlebih dahulu oleh penerbit mengenai keabsahan dari kartu  yang digunakan serta batas limit nominal transaksi yang dilakukan. Otorisasi  ini biasanya dilakukan secara on-line dengan meng-insert kartu melalui terminal EDC/POS (Electronic Data Capture/Point of Sales) yang ada di  pedagang. 
4. Kartu Debet (debet card)
Transaksi pembayaran dengan menggunakan kartu debet akan mengurangi  langsung saldo rekening pemegang kartu yang ada di bank penerbit. Jadi  dalam hal ini tidak ada fasilitas kredit yang diberikan oleh penerbit kepada  pemagang kartu. Sebagaimana halnya kartu kredit, mekanisme pembayaran dengan kartu debit juga memerlukan proses otorisasi serta ditambah dengan  penggunaan PIN (Personal Identification Number) oleh pemegang kartu.

Perbedaan cek dengan Bilyet giro ialah:

a.Cek:
    • Merupakan surat perintah dari nasabah kepada bank untuk membayar dengan uang tunai kepada orang yang ditunjuk atau penbawa cek tersebut.
    • Dapat diuangkan langsung secara tunai
    • Pembayaran oleh bank dapat dilakukan atas unjuk (dapat di endosir)
    • Dikenakan biaya materai
    • Dikenal adanya cek mundur
    • Tudak dapat diuangkan pada bank yang bersangkutan sebelum di beri tanggal penerbitanya.
b. Bilyet giro:
    • Bilyet giro merupakan surat perintah dari nasabah kepada bank untuk memindahka dananya kepada orang yang di tunjuk dan mempunyai rekening yang jelas pada bank tertentu
    • Tidak dapat diuangkan langsung secara tunai
    • Pemindah bukuan yang dilakukan oleh bank hanya dapat dilakka atas nama (tidak dapat diendosir)
    • Tercantum tanggal penerbitan dan tanggal efektif
    • Bilyet giro dapat diserahkan bank sebelum tanggal efektif, jika tanggal efektif tersebut lebih awal dari tanggal penerbitanya
    • Tidak dikenakan baya materai.

  1. Perbedaan surat sanggup dan wesel
Surat sanggup adalah surat (akta) yang berisi kesanggupan seorang D untuk menbayar sejumlah uang tertentu kepada seorang K/ penggantinya.
-             Surat sanggup kepada pengganti (surat sanggup)
-             Surat sanggup kepada pembawa (surat promes)

·      Surat sanggup tidak mempunyai tersangkut
·      Penerbit dalam surat sanggup tidak memberi  perintah untuk menbayar, tapi menyanggupi untuk membayar
·      Penerbit surat sanggup tidak menjadi D regres, tapi D surat sanggup
·      Penerbit tidak menjamin seperti pada penerbit wesel, tapi melakukan pembayaran sendiri sebagai D surat sanggup
·      Penerbit surat sanggup merangkap kedudukan sebagai akseptan pada wesel yaitu mengikatkan diri untuk menbayar

1 komentar:

  1. terimakasih sangat bermanfaat
    maaf tapi untuk tulisan yg bawah kok hitam tidak bisa terbaca
    fariedmaruf.com

    BalasHapus